Acara Business Gathering yang digelar oleh PT Mentari Niaga Utama (MNU) di pabriknya di Kawasan Industrial Sentolo, Kulonprogo, dimulai dengan doa bersama yang dipimpin oleh Prof. Gunawan Budiyanto — pakar ilmu tanah sekaligus Rektor Universitas Muhammadiyah Yogyakarta periode 2016–2024. Kegiatan ini ikut dihadiri tokoh akademisi, manajemen MNU, dan peserta yang menyaksikan langsung kegiatan produksi pupuk organik Suryaganic di pabrik tersebut.
Diskusi utama dalam gathering berlangsung di Resto Dadap Sumilir, tempat yang dipilih karena suasana alamnya yang asri serta kedekatannya dengan lahan sawah penghasil padi. Dalam paparan beliau, Prof. Gun menyinggung soal rendahnya pemahaman generasi muda tentang politik pangan, yang terlihat dari pengalaman mengajar mahasiswa dalam menentukan alasan geostrategis suatu konflik.
Menurut Prof. Gun, Indonesia perlu membangun kesadaran bahwa ketahanan pangan tidak hanya soal produksi, tetapi juga pemahaman ilmiah terhadap input pertanian seperti pupuk. Dia menegaskan bahwa ketakutan masyarakat terhadap istilah “kimia” sering kali tidak berdasar; semua materi di alam terdiri dari unsur kimia, dan baik kimia organik maupun an-organik memiliki peran dalam produksi pangan.
Dalam penjelasannya, Prof. Gun menjabarkan bahwa pupuk urea mengandung nitrogen hingga 46 %, sementara bahan organik biasanya hanya memiliki sekitar 5 % unsur tersebut. Ini berarti kalau petani ingin mengganti pupuk an-organik dengan pupuk kandang, jumlah yang dibutuhkan jauh lebih besar. Beliau juga mengkritik beberapa produk pupuk organik yang dipasarkan secara berlebihan tanpa dasar ilmiah kuat.
Salah satu contoh yang dibahas adalah Pupuk Organik Cair (POC) Gendruwo, yang klaimnya mengandung nitrogen tinggi karena penambahan urea, serta Pupuk Umak-Umik (Unsur Makro, Unsur Mikro) yang pernah dipromosikan dengan janji panen berlimpah hanya dengan dosis sedikit — menurut Prof. Gun, ini termasuk promosi yang menyesatkan dan dapat merugikan petani.
Prof. Gun menekankan pentingnya sinergi antara dunia usaha, industri, dan perguruan tinggi untuk menghasilkan pupuk organik yang berkualitas, jujur, dan tidak misleading. Ia melihat bahwa gabungan penggunaan pupuk an-organik dan organik bisa saling melengkapi untuk meningkatkan produktivitas pertanian secara berkelanjutan, asalkan didukung oleh pendekatan ilmiah dan etika yang kuat.
📌 Artikel ini dirangkum dan ditulis ulang dari artikel “Pupuk Gendruwo dan Umak-Umik”, dipublikasikan di Suara Muhammadiyah pada 5 Juni 2025.
Sumber: Suara Muhammadiyah

